Okta88geosama's Blog

Just another WordPress.com weblog

mencari filsafat ilmu geografi

Posted by okta88geosama pada April 3, 2010

Filsafat berasal dari bahasa Yunani, philosophia atau philosophos. Philos atau philein berarti teman atau cinta, dan shopia atau shopos berarti kebijaksanaan, pengetahuan, dan hikmah. Filsafat berarti juga mater scientiarum yang artinya induk dari segala ilmu pengetahuan. Kata filsafat dalam bahasa Indonesia memiliki padanan kata falsafah (Arab), philosophie (Prancis, Belanda dan Jerman), serta philosophy (Inggris). Dengan demikian filsafat berarti mencintai hal-hal yang  bersifat bijaksana (menjadi kata sifat) bisa berarti teman kebijaksanaan (menjadi kata benda) atau induk dari segala ilmu pengetahuan.

Immanuel Kant (1724-1804) mendefinisikan filsafat sebagai ilmu pengetahuan yang menjadi pokok dan pangkal dari segala pengetahuan. Menurut Kant ada empat hal yang dikaji dalam filsafat yaitu: apa yang dapat manusia ketahui? (metafisika), apa yang  seharusnya diketahui manusia ?(etika),  sampai dimana harapan manusia? (agama) dan apakah manusia itu (antropologi). Kenyataannya semua definisi filsafat di atas tidak pernah dapat menampilkan pengertian yang sempurna karena setiap orang selalu berbeda cara dan gaya dalam mendefinisikan suatu masalah. Definisi dan pengertian tidak akan menyesatkan selama kita memandangnya sebagai cara pengenalan awal atau sementara untuk mencapai kesempurnaan lebih lanjut. Dengan demikian filsafat merupakan ilmu yang mempelajari dengan sungguh-sungguh hakekat kebenaran segala sesuatu. Dengan bantuan filsafat, manusia berusaha menangkap makna, hakekat, hikmah dari setiap pemikiran, realitas dan kejadian. Filsafat mengantarkan manusia untuk lebih jernih, mendasar dan bijaksana dalam berfikir, bersikap, berkata, berbuat dan mengambil kesimpulan.

Berfilsafat dapat diartikan sebagai berfikir. Ciri berfikir filsafat adalah:

  1. Radikal: berfikir radikal artinya berfikir sampai ke akar permasalahannya.
  2. Sistematik, berfikir yang logis, sesuai aturan, langkah demi langkah, berurutan, penuh kesadaran, dan penuh tanggung jawab.
  3. Universal, berfikir secara menyeluruh tidak terbatas pada bagian tertentu tetapi mencakup seleuruh aspek.
  4. Spekulatif, berfikir spekulatif terhadap kebenaran yang perlu pengujian untuk memberikan bukti kebenaran yang difikirkannya.

Dalam halnya tentang geografi, paling tidak ada dua pendapat terhadap perkembangan bidang ilmu geografi saat ini. Pendapat pertama menganut faham geografi sebagai ilmu yang bersifat generalis yang tidak memerlukan bidang spesialisasi. Pendapat kedua memiliki pemikiran bahwa geografi dapat dikembangkan dalam spesialisasi spesialisasi (cabang atau bahkan ranting) tertentu. Ke dua pendapat tersebut mengetengahkan kebenaran masing masing sebagai dasar pertimbangan.

Geografi adalah bukan bidang ilmu tentang semua hal yang ada dalam kehidupan manusia, walaupun ada yang berpendapat bahwa geografi adalah mothers of science atau ilmu yang bersifat generalis. Sebuah kalimat yang sering diungkapkan adalah bahwa “semua hal bisa di-geografi-kan sepanjang masih dapat dianalisis secara spasial”. Kalimat ini sangat sederhana namun mempunyai implikasi yang sangat luas terutama bagi para geograf yang kritis. Pertanyaan kritis yang kemudian dapat dikemukakan adalah “apakah dapat dibuktikan bahwa semua hal dapat dianalisis dalam perspektif spasial.

Oleh karena begitu banyak hal dapat digeografikan maka muncul usaha usaha membuat spesialisasi geografi. Upaya untuk memikirkan spesialisasi di bidang ilmu geografi layak untuk diapresiasi. Namun, cabang atau ranting ilmu yang dirumuskan hendaknya memenuhi kaidah kaidah yang benar sehingga tidak menyimpang dari pohon ilmunya. Salah satu contoh adalah pohon ilmu geografi jelas berbeda dengan pohon ilmu informatika yang fokus dalam rekayasa teknik system pengolahan data menjadi informasi. Demikian pula pohon ilmu geografi jelas berbeda dengan pohon ilmu psikologi yang fokus dalam perilaku (behaviour) manusia. Sampai saat ini belum ada yang mampu untuk mengspasialkan sebuah persepsi dan menyajikan serta menjelaskannya dalam perspektif keruangan.

Tulisan ini disusun dengan maksud untuk menyegarkan kembali pemikiran kita tentang dunia ilmu pengetahuan khususnya bidang ilmu geografi. Proses penyegaran kembali ini perlu dilakukan karena kita ingin tetap memposisikan ilmu geografi sebagai bidang ilmu yang diakui dan selalu relevan dengan dinamika perkembangan sains dan teknologi dewasa ini. Dalam tulisan ini, dari berbagai buku pustaka, akan ditelaah tentang apa sebenarnya substansi pengetahuan filsafat ilmu sebagai pengantar pokok bahasan. Selanjutnya akan dielaborasi dua definisi geografi sebagai titik tolak telaah geografi sebagai bidang ilmu, metode keilmuan beserta cirri geografi tersebut.

Dalam mendefinisikan sebuah ilmu, kita dapat menyatakan bahwa bidang ilmiah merupakan salah satu hal yang sulit untuk didefinisikan.   Kesulitan ini disebabkan karena setiap bidang ilmiah selalu terkait atau saling “overlap” dengan bidang ilmiah lainnya. Namun demikian, agar sebuah bidang ilmiah dapat diakui eksistensinya maka bidang ilmiah tersebut harus dapat memiliki perbedaan prinsipil dengan bidang ilmiah lainnya.  Dalam hal ini perbedaan prinsipil tersebut dapat ditentukan oleh subyek keilmuannya dan/atau oleh perspektif keilmuannya.

Perbincangan tentang jati diri Geografi telah beberapa  kali dilakukan di Indonesia, baik melalui lokakarya, seminar maupun melalui sarasehan yang dilakukan

oleh Fakultas/Jurusan/Departemen Geografi,  organisasi profesi (IGI) dan ikatan alumni (IGEGAMA).

Para ahli geografi selalu menaruh perhatian geografi pada persebaran, perubahan, dan keterkaitan antara gejala fisik dan sosial pada berbagai tempat di permukaan bumi.  Kajian-kajian yang yang dilakukan senantiasa dilandasi oleh pendekatan regional dan ekologis guna memahami secara holistik hubungan antara manusia dan lingkungan dalam membentuk karakter permukaan bumi.   Pendekatan regional berupaya untuk memahami, mengkaji, dan menilai lokasi/tempat keberadaan aktivitas manusia di permukaan bumi melalui pertanyaan “di mana” dan “mengapa di sana”.  Sementara itu, pendekatan ekologis berupaya untuk memahami keterkaitan antara manusia dan lingkungan, serta bagaimana pengaruhnya pada dinamika kehidupan.  Melalui dua pendekatan tersebut, kajian-kajian geografi bukan saja berkewajiban untuk mendeskripsikan dan memahami fenomena tertentu, tetapi juga wajib memberikan penjelasan dan prakiraan.

Para ahli geografi selalu menaruh perhatian pada persebaran, perubahan, dan keterkaitan antara gejala fisik dan sosial pada berbagai tempat di permukaan bumi.  Kajian-kajian yang yang dilakukan senantiasa dilandasi oleh pendekatan regional dan ekologis guna memahami secara holistik hubungan antara manusia dan lingkungan dalam membentuk karakter permukaan bumi.   Pendekatan regional berupaya untuk memahami, mengkaji, dan menilai lokasi/tempat keberadaan aktivitas manusia di permukaan bumi melalui pertanyaan “di mana” dan “mengapa di sana”.  Sementara itu, pendekatan ekologis berupaya untuk memahami keterkaitan antara manusia dan lingkungan, serta bagaimana pengaruhnya pada dinamika kehidupan.  Melalui dua pendekatan tersebut, kajian-kajian geografi bukan saja berkewajiban untuk mendeskripsikan dan memahami fenomena tertentu, tetapi juga wajib memberikan penjelasan dan prakiraan

Dalam merespon permasalahan lingkungan yang multidimensi dan berskala lokal hingga global, Geografi dihadapkan pada dua permasalahan  yang terkait disiplin ilmu geografi itu sendiri  dan permasalahan kompetensi  geograf sebagai pemangku ilmu geografi.

1)          Geografi yang bagaimanakah yang mampu memberikan kontribusi  nyata untuk  pengambilan kebijakan dalam memecahkan permasalahan lingkungan yang  berdimensi lokal hingga global secara berkelanjutan.

2)          Kompetensi apakah yang diperlukan bagi geograf di masa mendatang?

Setelah membahas beberapa permasalah diatas. maka ciri utama geografi sebagai sebuah bidang ilmu adalah penekanannya pada perspektif keruangan.  Dengan demikian, sesuatu dapat menjadi “geografi” bukan ditentukan oleh subyeknya melainkan oleh sejauh mana keterkaitannya dengan ruang (space).  Atau dengan kata lain, geografi mempelajari berbagai gejala berkaitan dengan “ruang muka bumi” sebagai tempat berkembangnya kehidupan.

Pertanyaan pertama dimunculkan, karena ada tiga alasan penting yang  terkait

dengan geografi:

1)      geografi menghadapi tantangan untuk memberikan masukan dalam  memecahkan masalah yang multi dimensi dan kompleks yang memerlukapendekatan antar bidang, apabila geografi tidak terpadu  maka kontribusi geografisnya kurang lengkap, bahkan  berisiko sebagian disiplin geografi menjadi bagian disiplin ilmu lain;

2)      pembelajaran geografi harus utuh tidak terkotak-kotak secara tegas antara geografi fisik dan geografi manusia, karena masalah di sekeliling lingkungan kita semakin meningkat dan geograf harus mampu memberikan kontribusi yang nyata kepada masyarakat, oleh karena  itu geograf harus berbekal teori/konsep yang matang;

3)      riset fundamental dalam elemen inti geografi belum banyak dilakukan untuk menghasilkan teori dasar geografi yang dapat digunakan sebagai masukan dalam kebijakan pemerintah, jika geografi tidak mengembangkan geografi terpadu akan kehilangan kesempatan/kedudukan sebagai pemberi masukan sesuai bidang keilmuan geografi. Label  dari geografi adalah ruang, tempat, lingkungan dan peta, yang tidak dimiliki oleh disiplin ilmu lain (Mathews et al, 2004).

Dalam mengupas permasalahan pertama tersebut perlu didasari pemahaman tentang ruang lingkup Geografi, komponen inti kajian geografi. Geografi sebagai sebuah ilmu juga mempunyai kaitan eratnya dengan ilmu lain sebagai ruang lingkupnya.

g

Gambar 1. Lingkungan sekitar bidang ilmu Geografi (modifikasi Fenneman 1919 dalam Jensen, 1980).

Interkoneksi berbagai bidang ilmu dengan bidang geografi menunjukkan fenomena di mana perkembangan bidang ilmu geografi dapat dikatakan sangat ditentukan oleh kemampuan geograf dalam memperoleh informasi perkembangan bidang ilmu lainnya. Hasil riset bidang ilmu lain akan memperkaya (proliferate) cakupan penelitian geografi. Demikian pula, hasil riset geografi tentang topik tertentu (secara terbatas) dapat memicu perkembangan bidang ilmu lainnya. Dalam konteks ini maka terbuka ruang terbentuknya gejala divergensi bidang ilmu (termasuk geografi) dalam berbagai cabang ilmu yang bersifat lebih spesifik (spesialisasi).

Mengacu pengertian geografi, maka dapat dijelaskan bahwa apa yang ingin diketahui ilmu geografi adalah “berbagai gejala keruangan dari penduduk, tempat beraktifitas dan lingkungannya baik dalam dimensi fisik maupun dimensi manusia”. Perbedaan dan persamaan pola keruangan (spatial pattern) dari struktur, proses dan perkembangannya adalah penjelasan lebih lanjut dari apa yang ingin diketahui bidang ilmu geografi.

Sebagai salah satu penjelasan lebih rinci, pola keruangan dari gejala yang berlangsung di muka bumi biasanya disajikan dalam model simbolik (dalam bentuk peta). Peta region misalnya, menggambarkan informasi keruangan atau informasi geografis dalam tingkatan kelas (klasifikasi) dari mulai yang paling rendah sampai yang paling tinggi dari suatu obyek. Di samping informasi kuantitatif, peta tersebut juga dapat memberikan informasi arah dan laju perubahannya. Fakta spasial suatu gejala tertentu dapat dianalisis lebih jauh untuk menghasilkan informasi keterkaitannya dengan gejala lainnya.

Geografi sebagai ilmu holistik yang mempelajari  fenomena di permukaan bumi secara utuh menyeluruh, geografi adalah ilmu analitis dan sintesis, yang memadukan unsur lingkungan fisikal dengan unsur  manusia dan iii). geografi adalah ilmu wilayah yang mempelajari sumberdaya wilayah secara komprehensif. Tiga sebutan geografi tersebut yang menjadi landasan untuk membahas  kajian geografi yang mampu merespon permalasalahan lingkungan yang berdimensi  lokal hingga global.

Pertanyaan pemandu untuk mengetahui ruang lingkup kajian Geografi pada umumnya adalah:

1)      apa (what),

2)      dimana (where),

3)      berapa (how long/how much),

4)      mengapa (why),

5)      bagaimana (how),

6)      kapan (when),

7)      siapa (who) (Widoyo Alfandi, 2001)

Selanjutnya, Matthews, et al., (2004) mengusulkan empat komponen inti Geografi : ruang (space), tempat (place), lingkungan (environment) dan peta (maps).

Ruang menjadi satu konsep dalam inti geografi, yang dapat dipandang sebagai pendekatan spasial-korologikal  untuk Geografi. Ruang  juga mendominasi Geografi setiap waktu, ketika analisis spatial  menjadi satu pendeskripsi untuk satu bentuk dari pekerjaan geografis. Pola spasial umumnya menjadi titik awal untuk kajian geografis; yang selanjutnya dapat dilacak proses perubahan secara spasial  dan sistem spasial.

Tempat merupakan komponen kedua dalam inti geografi. Tempat terkait dengan kosep teritorial dalam Geografi dan menunjukkan karakteristik, kemelimpahan dan batas. Tempat merupakan bagian dari dunia nyata tempat manusia bertem dan dapat dikenali, dinterpretasi dan dikelola. Dalam ahli geografi manusia tempat merupakan refleksi dari identitas idividu maupun kelompok; sedang bagi ahli geografi fisik tempat tempat merupakan refleksi dari perbedaan lingkungan biofisik.

Lingkungan merupakan komponen inti Geografi ketiga yang mencakup lingkungan alami (topografi, iklim, air, biota, tanah) dan sebagai komponen inti yang memadukan dengan komponen geografi lainnya. Lingkungan menjadi interface antara lingkungan alam dan budaya, lahan dan kehidupan, penduduk dan lingkungan biofisikalnya.

Peta sebagai komponen inti Geografi  keempat  lebih merupakan bentuk representasi, tehnik dan metodologi dari pada sebagai satu konsep atau teori. Peta dipandang sebagai pernyerhanaan perpektif spasial dari fenomena/peristiwa yang dikaji dalam Geografi.

Adapun ruang, tempat, lingkungan dan peta menjadi label dari Geografi. Komponen tersebut mempunyai kedudukan yang sama dalam kajian Geografi, baik dalam kajian Geografi Fisik maupun Geografi Manusia. Demikian juga dapat menjadi dasar konsep  untuk disiplin Geografi secara utuh. Komponen inti Geografi tersebut bersifat dinamik,  dalam arti dapat terjadi perubahan, yang tergantung karakteristik lingkungan, proses yang berlangsung dan waktu.

Oleh sebab itu perlu ada dimensi kualifikasi dari komponen inti geografi tersebut. Dimensi yang dimaksud adalah waktu, proses, keterbukaan dan skala. Sebagai contoh tempat yang terletak di pegunungan yang semula subur menjadi lahan kritis dalam waktu 10 tahun, karena  proses erosi  dan longsor karena daerahnya terbuka akibat pembalakan hutan di atasnya, yang  luasnya melebihi 70%.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: